• News

    Asep Anang: Memaksimalkan Potensi Ayam Kampung Indonesia

    Indonesia memiliki keanekaragaman plasma nutfah yang harus dilestarikan keberadaannya salah satunya adalah ayam kampung. Jika dikategorikan ayam yang ada di Indonesia itu ada ayam asli dan ayam lokal. Ayam asli yaitu ayam yang nenek moyangnya ada di Indonesia misalkan ayam pelung dan ayam sentul dari Jawa Barat yang berasal dari ayam hutan yang telah di domestikasi. Sedangkan ayam lokal adalah ayam yang datang dari luar negeri seperti ayam merawang yang sejarahnya dari Tiongkok dan ayam arab yang sejarahnya dari Belgia lalu masuk ke Indonesia, dipelihara dan beradaptasi dalam jangka waktu yang lama di lingkungan setempat.

    Merujuk pada ayam-ayam yang dipakai di dunia terdapat ayam pedaging dan ayam petelur. Ayam pedaging berasal dari bibit ukuran besar seperti sussex dan ornis yang kemudian pembibit membuat pola pembibitan khusus ayam pedaging. Ayam petelur juga sama, pembibit mencari ayam petelur unggul di dunia lalu ditemukan ayam petelur seperti white leghorn dan rhoad island red yang kemudian masuk ke industri menjadi bibit ayam petelur. Sementara karakteristik ayam yang ada di Indonesia tidak termasuk keduanya baik untuk bibit ayam petelur maupun ayam pedaging karena dilihat dari performa dan produksi telurnya kurang begitu baik serta pertumbuhannya tidak cepat.

    Ayam asli Indonesia seperti ayam sentul sangat sulit bersaing dengan ayam ras karena kita sudah ketinggalan sekitar 100 tahun untuk pola pembibitannya. Selain itu, ayam sentul bukan bibit terbaik untuk ayam pedaging atau ayam petelur. Tetapi karena itu plasma nutfah Indonesia maka kita harus memanfaatkan dan memaksimalkan potensinya. Ayam sentul harus diarahkan pada hal-hal yang spesifik misalkan untuk peternakan organik (organic farming). Pembibitannya pun diarahkan lebih banyak ke daya tahan penyakit, tanpa obat-obatan, tanpa vaksin, atau bisa dikatakan mengarah ke makanan sehat (healthy food) sehingga hasilnya adalah ayam organik.

    Apalagi ke depan masyarakat sudah memulai pola konsumsi makanan organik. Contohnya di Tiongkok, masyarakatnya sudah mulai mengarah mengkonsumsi ayam lingnan yang merupakan ayam asli mereka. Meskipun kemampuan daya beli yang masih kurang, di Indonesia pun kecenderungan untuk mengkonsumsi ayam kampung sudah mulai terlihat terutama dari kalangan menengah ke atas. Ibaratnya, mobil bensin itu sudah ketinggalan karena sekarang sudah ramai-ramai menggunakan mobil listrik.

    Untuk itu, jika ayam kampung kita diarahkan ke organic farming, Indonesia belum tertinggal dari negara lain terlebih bibit-bibit dari luar negeri juga sedang memulai ulang. Sehingga belum ketinggalan jika kita ingin memaksimalkan potensi ayam kampung kita dan saat ini bisa menjadi momen penyetaraan untuk mengarahkan ke organic farming.

    Belum Profesional

    Kalau melihat usaha pembibitan ayam lokal di Indonesia sudah mulai berkembang tetapi belum ada yang dijalankan secara profesional. Indikatornya adalah pola pembibitannya tidak memakai teknik-teknik yang sekarang dipakai di ayam ras. Bisa jadi hal itu karena para pembibit tidak memiliki ahli genetika sehingga usaha pembibitannya dijalankan sebatas kemampuan mereka saja. Sehingga mereka perlu bimbingan dan pengarahan dalam menjalankan usaha pembibitan ayam kampungnya seperti halnya pada usaha pembibitan ayam di industri.

    Dari sisi budidaya, peternak juga menggunakan pakan pabrikan dan obat-obatan dalam pemeliharaannya dengan maksud mempercepat pencapaian pertumbuhan untuk mengisi segmen-segmen pasar permintaan ayam kampung yang ada. Kondisi itu tidak bisa dipungkiri karena peternak berorientasi profit dan efisiensi. Terlebih, ketersediaan bibit ayam kampung organik juga belum siap sehingga dituntut harus segera disiapkan.

    Perlu ditekankan bahwa menjalankan usaha pembibitan ayam itu juga bukan persoalan mengawinkan 2 jenis ayam saja tetapi pembibit harus memelihara yang murninya. Misalkan kita ingin mengawinkan ayam pelung dengan ayam sentul maka kalau di industri kedua jenis ayam itu harus ada yang murninya. Pola seperti itu yang dilakukan di ayam ras. Dan, di pembibitan ayam kampung belum terlihat pola seperti itu makanya perlu edukasi dari para ahli atau mungkin dari yang sudah terjun di industri ayam ras. Tetapi catatannya adalah pelaku industri itu tidak pernah publikasi hal-hal yang spesifik sehingga kalau kita mencari teknik pembibitan ayam di buku itu tidak ada. Jadi kita harus bisa menggali sendiri dan kalau tidak masuk ke industri tidak akan tahu termasuk dalam hal GBP (Good Breeding Practice/cara pembibitan yang baik). Sebagai contoh, kita pun tidak tahu ayam petelur seperti lohmann, hyline, hisex di atasnya seperti apa atau ayam apa saja yang dipakai itu tidak pernah terpublikasi kalau kita tidak pernah masuk ke sana.

    Namun sebenarnya pola dan teknik pembibitan ayam itu sama, cuma arahan atau titik berat setiap pembibit berbeda-beda. Misalkan di satu industri titik beratnya ke pertumbuhan sedangkan di industri lain ada yang ke daya tahan penyakit, lingkungan, tahan panas, dan lain-lain. Di industri layer (ayam petelur) juga tidak sama. Ada titik beratnya untuk produksi telur atau berat telur. Sebagai contoh, bagi konsumen Indonesia titik berat layer lebih banyak untuk produksi telur sedangkan di Amerika Latin titik beratnya lebih ke berat telur.

    Dengan pengetahuan tentang pembibitan ayam kampung dari para pembibit yang dirasakan masih minim maka harus ada konsultan yang betul-betul mendampingi sekaligus menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan pendampingan. Berikutnya, perlu di bentuk seperti di luar negeri apa yang disebut dengan galur murni. Ayam di dunia peternakan itu ada ternak murni atau first line dan galur murni atau fure line. First line contohnya ayam sentul murni yang belum di apa-apakan. Kemudian galur murni itu diarahkan ke pertumbuhan atau produksi telur sehingga fokus pembibitan adalah bagaimana menciptakan galur murni. Semakin murni tetua di atasnya, persilangan akan lebih baik. Tetapi kembali lagi syaratnya adalah menggandeng ahli genetika/praktisi karena kalau menggandeng akademisi dengan peneliti belum tahu caranya. Pasalnya, kalau akademisi itu outputnya mahasiswa, peneliti outputnya publikasi, dan praktisi industri outputnya produk. Mereka mungkin saling beririsan tapi kenapa praktisi industri tidak banyak menulis karena outputnya kalau ayam bagus tidak perlu publikasi dan mereka biasanya tanda tangan kesepakatan bahwa tidak akan mempublikasi apa yang dikerjakan.

    GGPS Ayam Sentul Debu JP 15

    Terkait ayam sentul, tim dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang memulai penelitian sejak 2012 di Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas (BPTPU) Jatiwangi Jawa Barat berhasil membuat galur murni GGPS (Great Grand Parent Stock) Ayam Sentul Debu JP 15 dengan kemurnian sekitar 95 %. JP yang berarti Jatiwangi Padjadjaran serta 15 menunjukan galur mulai stabil dan mulai terlihat kemurniannya pada generasi ke-3 di akhir 2015.

    Setelah diperoleh galur murni ini rencananya dengan persetujuan Badan Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (BP3 Iptek) Provinsi Jawa Barat akan diarahkan menjadi ayam organik dengan keturunan yang didapat adalah kombinasi dari sifat-sifat yang kita inginkan. Kalau untuk pedaging, ayam jantannya akan diarahkan untuk pertumbuhan dan daya tahan sementara untuk ayam betinanya ke produksi telur karena bagaimanapun untuk tujuan sebagai pedaging yang dijual adalah DOC (ayam umur sehari).

    Ke depan dengan GGPS Ayam Sentul Debu JP 15 bisa saja BPTPU Jatiwangi jika bekerja sama dengan instansi pemerintah lainnya mengeluarkan pure line tapi kalau bekerja sama dengan peternak bisa mengeluarkan parent stock (PS) dan sebagainya. Namun sampai saat ini kesepakatan itu belum ada. Yang pasti desainnya akan dilakukan secara berkelanjutan bahkan BP3 Iptek akan mengembangkan parent stock-nya.

    Mendorong Investasi

    Harus diakui, perlu investasi yang besar untuk mengembangkan pembibitan ayam kampung ini tetapi bisa dilakukan secara bertahap diikuti promosi minimal membidik kalangan masyarakat kelas menengah ke atas dengan ayam organik sehingga ke depan kita bisa mandiri di perbibitan. Tentu harapannya, ayam kampung ini bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bisa populer dan berkembang menjadi industri dan menekan ayam ras yang sampai sekarang industrinya masih 100 % mengimpor bibit.

    Menggerakkan investasi di pembibitan ayam kampung yang masih kepayahan dalam hal mengejar efisiensi ini cukup sulit. Tetapi minimal kalau di produksi telur ayam kampung female line-nya sudah didapatkan yang bagus efisiensi akan diperoleh. Meskipun saat ini female line-nya belum mapan betul untuk mencapai pasar.

    Kalau ke depan kita sudah mapan di ayam kampung ini bisa saja melakukan ekspor dengan catatan harus betul-betul bisa menangani penyakit karena banyak penyakit yang harus diperiksa untuk bisa melakukan ekspor dan pembibitan pun harus siap. Misalkan untuk ekspor, bibit pure line harus SPF (specific pathogen free), dan itu yang masih berat dilakukan pembibit karena kalau tidak bebas penyakit akan sulit untuk ekspor ayam kampung. Berikutnya adalah ekspor ayam kampung kita masih terkendala karena belum banyak bicara seperti negara lain misalnya Thailand yang sudah jauh mengerjakan daripada kita dan sudah industrialisasi. Kalau produk ayam kampung Thailand bisa masuk ke Indonesia kita kalah efisien karena bisnis ayam kampung kita masih seadanya.

    Industri jelas acuannya adalah profit. Kalau tidak untung tidak akan maju. Kelihatannya ayam kampung kita harus di bentuk dengan mempercayakan pada industri. Dan, dengan kondisi sekarang, ayam kampung belum siap untuk industrialisasi yang besar. Jika seadanya dengan berharap perlindungan harga dan perlindungan peternak dari pemerintah kemungkinan bisa tetapi kalau untuk bersaing global masih perlu pembenahan yang menyeluruh.


    (sumber: TROBOS)

    No comments:

    Post a Comment